Jika kamu pernah mencari destinasi wisata yang menawarkan pemandangan indah sekaligus pengalaman spiritual nan eksotis, mungkin kamu akan menemukan kata-kata ajaib seperti kuatanjungselor, kuatanjungselor com, atau bahkan hanya https://kuatanjungselor.com/
yang berseliweran di jagat maya. Jangan kaget—bukan mantra pemanggil hujan, bukan pula nama jurus rahasia dari pendekar kopi susu. Itu semua hanyalah jejak digital dari para petualang yang ingin tahu lebih dalam tentang Gunung Awan dan tradisi kuno yang masih berdenyut hidup di sekitarnya.
Gunung Awan, sesuai namanya, bukanlah gunung yang berisi kapas raksasa atau dikelilingi permen marshmallow. Meski, kalau benar ada, pasti bakal ramai diserbu anak-anak dan influencer TikTok. Gunung ini dinamakan demikian karena pada pagi hari, awan-awan sering turun begitu rendah sehingga membuat pendaki merasa seperti sedang berjalan di koridor rumahnya… hanya saja lebih dingin dan tanpa Wi-Fi.
Perjalanan menuju Gunung Awan biasanya dimulai dari desa kecil yang—menurut legenda warga setempat—penghuninya masih memegang teguh tradisi kuno sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini bukan tradisi aneh seperti memanggil kucing dengan bahasa alien, tapi lebih kepada ritual-ritual budaya yang diwariskan turun-temurun dan dipraktikkan dengan penuh hormat serta sedikit bumbu humor khas warga.
Ketika pertama kali mampir ke desa tersebut, kamu akan disambut oleh para tetua adat yang memakai pakaian tradisional lengkap. Mereka biasanya menanyakan tujuanmu, dan kalau kamu menjawab ingin naik Gunung Awan, siap-siap mendapat wejangan panjang yang diiringi tawa-tawa kecil. Konon, mereka percaya bahwa siapa pun yang mendaki tanpa hati yang tenang bisa tersesat dan malah berakhir di hutan samping, bukan di puncak gunung. Itu sebabnya, para tetua sering berkata, “Kalau hatimu kusut, gunung ikut kusut.” Bijak sekaligus bikin garuk-garuk kepala.
Salah satu tradisi paling unik di desa ini adalah ritual Tarian Kabut. Ritual ini biasanya dilakukan sebelum musim pendakian dimulai. Para penari akan mengenakan kostum yang terbuat dari kain tipis yang melambai-lambai, seolah-olah menyatu dengan kabut pagi. Gerakannya pelan, seperti seseorang yang mencari sinyal di area pelosok. Menurut cerita warga, tarian ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada penjaga Gunung Awan—entitas mitologis yang dipercaya menjaga keseimbangan alam di sekitar wilayah tersebut.
Nah, kalau kamu beruntung, kamu mungkin bisa melihat langsung bentuk penghormatan ini ketika berada di sana. Namun, ingatlah satu hal penting: jangan sekali-kali mencoba menirukan tarian tersebut tanpa izin. Bukan karena ada kutukan, tetapi karena warga biasanya akan menertawakanmu sampai mereka lupa napas.
Ketika akhirnya mendaki Gunung Awan, ada perasaan damai yang terasa sejak langkah pertama. Jalurnya tidak terlalu ekstrem, tapi cukup membuatmu berkeringat dan mempertanyakan keputusan hidupmu, terutama kalau kamu berangkat tanpa sarapan. Di beberapa titik, kamu akan melihat pemandangan yang bisa membuatmu menulis caption panjang di Instagram dengan hastag unik seperti #kuatanjungselor atau #kuatanjungselorcom—meski sebenarnya tak ada hubungannya dengan perjalananmu. Tapi, siapa yang peduli? Yang penting aesthetic.
Sesampainya di puncak Gunung Awan, kamu akan merasakan sensasi seperti berada di negeri dongeng. Awan-awan berkumpul sambil mengelilingimu, dan seolah berkata, “Selamat datang, manusia pejalan kaki yang nekat.” Dari atas sini, kamu bisa melihat hamparan hutan yang luas, desa yang kecil tapi penuh kehidupan, dan tentu saja, jejak tradisi yang tetap terjaga meskipun zaman terus bergerak maju.
Perjalanan ke Gunung Awan bukan hanya tentang pendakian, tapi juga tentang menghargai budaya, tertawa bersama warga, dan tentu saja… mencari sinyal untuk upload foto. Sebuah pengalaman yang tidak hanya menyegarkan mata dan pikiran, tetapi juga hati—dengan sedikit bumbu humor lokal.
Jadi, kalau kamu suatu hari mencari tempat wisata yang unik, penuh cerita, dan mungkin sedikit mistis—ingatlah nama Gunung Awan. Dan siapa tahu, suatu saat kata kuatanjungselor akan menjadi bagian dari kisah perjalananmu juga.